Setelah mengucapkan salam, tidak seorang pun ditemui di ruang depan gedung. Hanya terlihat kursi dan meja yang bertumpuk di ruang sebelahnya dan rajutan rumah laba-laba yang seakan menjadi hiasan di ruang itu. Setelah mencoba memberi salam beberapa kali, akhirnya datang seorang yang bertubuh tegap dengan rambut yang sudah memutih. "Cari siapa, Dik?", sapanya dengan ramah. Setelah bercakap-cakap menanyakan maksud dan tujuan kedua orang tadi, ia pun permisi. Bak menjalankan sebuah perintah, ia segera berbalik. Tidak lama kemudian, ia kembali lagi bersama seorang yang badannya lebih besar dan berambut putih semua. "Bapak ini adalah pimpinan di sini", jelas bapak pertama. Bapak yang diperkenalkan itu menyebutkan namanya, H. Mahidin Pohan, selaku pimpinan di korps ini, ia punya tugas untuk mengurus keperluan pejuang veteran Indonesia. Sebagai pusat korps veteran, ia juga mengadakan koordinasi dengan korps-korps cabang seluruh Indonesia. Masuknya pria asal Medan ini ke kesatuan tentara pada umur sekitar 17 tahun menjadi awal kepengurusannya di KCVRI. Risiko mati sudah menjadi komitmen seorang tentara. Tekad itu telah merasuk ke jiwa Pohan tatkala harus menghadapi tentara NICA di perang Medan Area. Beruntung nyawanya masih terselamatkan saat sebuah peluru musuh meluncur ke tubuhnya. Namun, tangan dan dadanya tidak terelakkan jadi sarang peluru itu. "Saya kena tembak bukan karena takut, karena maju", kenang pria berumur 76 tahun ini. Dua tahun ia menjalani hidup dengan tangan berbau busuk karena stok obat habis. "Kalau ada anak gadis, ia merasa bau pada kita", tuturnya dengan tertawa tatkala mengingat para gadis menjauh darinya. Setelah merintis kepangkatan dari BKR (Badan Keamanan Rakyat) sampai TNI (Tentara Nasional Indonesia), Pohan kini dipercaya sebagai ketua KCVRI sampai tahun 2004. Namun, ia merasa kecewa dengan penghargaan pemerintah bagi para cacat veteran. "Habis manis sepah dibuang", itulah pepatah yang cukup pas untuk menggambarkan kekecewaan Pohan. "Pengalaman kami sakit betul, napasnya satu-satu, ngos-ngosan", ujarnya tentang kondisi yang dialami sekarang. Pria yang logat Medannya masih kentara ini merasa tidak puas dengan pemerintahan sekarang. "Sekarang kami tidak dianggap siapa-siapa lagi", ungkap Bapak yang dulu fasih berbahasa Jepang ini. "Tangan saya tidak bisa lurus lagi dan dada saya habis diseret peluru adalah perjuangan saya untuk negeri ini", lanjutnya. Dulu, pada masa pemerintah sebelum reformasi semuanya berjalan lancar. Mereka tidak mengalami kesulitan dana untuk biaya operasional kantor ini. Kenyataan pahit harus dialami para pengurus di sini. "Saking tidak ada dananya, listrik mau dicabut", terangnya. Tagihan terakhir yang mencapai dua jutaan belum bisa mereka lunasi. Untuk menyiasati masalah itu, beberapa bagian gedung ini disewakan, yaitu bagian depan dan bangunan samping. Walaupun kondisinya berubah, tetapi semangat mereka untuk terus memperjuangkan hak-hak teman pejuang tidak surut. Pohan yang cukup vokal tidak enggan melayangkan surat ke pemerintahan setempat dan Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) untuk minta diperhatikan. Satu-satunya dana yang bisa diandalkan sampai saat ini adalah dari Dephankam. Walaupun matanya menyiratkan kekesalan, tetapi dalam hati kecilnya ia tidak pernah menyesali perjuangan dan pengorbanannya. "Saya cinta republik ini", katanya dengan tetap semangat. Supranoto, teman seperjuangan Pohan di KCVRI menuturkan penyesalannya terhadap kondisi bangsa Indonesia yang bercerai-berai. "Pada waktu dulu, kita semua bersatu padu. Sekarang mengapa ada yang mau lepas dan terpisah", ungkap veteran yang berpangkat letnan dua ini dengan nada setengah kecewa. Namun, ia pun tidak menyesal pernah ikut andil dalam memerdekakan bangsa ini. Bapak yang telah berumur 75 tahun ini menuturkan bahwa perjuangan mengusir penjajah merupakan suatu perjuangan tanpa pamrih dan dilakukan semata-mata karena cinta tanah air dan bangsa. Pejuang lain, Mukhron berpendapat lain. Bapak asli Betawi ini mengemukakan bahwa dirinya sangat senang merasakan republik tercinta ini merdeka karena cita-cita pejuang dulu adalah mengangkat derajat bangsa dari segala hal walaupun mereka diperlakukan kurang semestinya saat ini. "Kita maklum kurang diperhatikan, kalau dikhususkan kita aja tidak adil. Saya masih menghargai pemerintah yang berkuasa", ungkapnya. Perjuangannya dimulai sejak dirinya masuk Gerakan Pemuda Banteng. Kariernya dirintis dengan masuk BKR. Sewaktu itulah ia disergap sehingga kena tembak di kaki dan tangannya. Beruntung kala itu, dirinya menolak untuk diamputasi sehingga sekarang ia masih bisa berjalan dengan kedua kakinya. Namun, cacat tidak bisa dihindari. Tangan kanannya kesulitan digunakan untuk menulis. "Soalnya pensil kecil, licin", jelas Bapak berusia 80 tahun ini. Tidak ayal jika ia menulis dalam satu lembar kertas, bentuk tulisannya bermacam-macam. Keaktifan dalam korps ini mengisi waktunya setelah pensiun. Selain itu, dirinya memang gemar berorganisasi. Sebelum masuk ke korps ini, Bapak yang memiliki dua anak ini aktif di Korps Invalid Jakarta yang bertujuan untuk menghimpun teman-teman pejuang yang cacat. "Dengan berorganisasi pola pikir saya meningkat", jelasnya. Berperannya dalam korps ini juga sebagai bentuk perjuangan untuk teman-teman senasibnya sesuai dengan Undang-Undang No.27. Dalam UU itu pasal 19 disebutkan bahwa semua cacat veteran, warakauri, dan yatim piatu pejuang diurus khusus. Pasal 20 dijelaskan bahwa pemerintah berkewajiban mengurus para cacat. Kini, ia punya satu pengharapan agar anak bangsa mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkannya. Kepada para pemimpin negeri ini yang menyeleweng semoga insyaf. |
Kamis, 27 Januari 2011
Sekarang kami dianggap sampah, Cerita dari Korps Cacat Veteran RZ, Jakarta Selatan
Masa Kelam Sang Pejuang
Peliput : Awang Darmawan
Produser : Widayat S Noeswa
Tayang : Jumat, 22 Agustus 2008, Pukul 12.30 WIB
Produser : Widayat S Noeswa
Tayang : Jumat, 22 Agustus 2008, Pukul 12.30 WIB
Setia kali memperingati hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus hatiku selalu bergetar. Ada kebanggaan yang tiada ternilai yang masih bersemayam di dada. Karena aku adalah saksi sejarah kemerdekaan.
Aku bangga sekaligus sedih. Bangga karena bangsa Indonesia bisa terbebas dari belenggu penjajahan. Sedih karena nasibku dan suamiku jauh dari arti kemerdekaan. Kehidupan kami sebagai mantan pejuang seperti terlupakan. Bahkan suamiku kini terbaring lemah tak berdaya.
Bulan ini bangsa Indonesia merayakan hari ulang tahun kemerdekaan ke 63. Sebuah moment untuk mengenang lahirnya sebuah bangsa yang dicapai dengan pengorbanan, bukan hanya jiwa dan raga.
Namun dibalik itu semua ternyata masih banyak cerita pilu dari mereka yang dulu ikut memanggul senjata untuk memperebutkan kemerdekaan dari para pejajah. Minih dan suaminya adalah sebuah potret buram dari hingar binggar kemerdekaan.
Ya aku dan suamiku adalah mantan pejuang yang menjadi saksi sejarah terbebasnya bangsa ini dari belenggu penjajahan. Kami berjuang dari satu daerah ke daerah lain. Suamiku berada di garis depan memanggul senjata, sementara aku menjadi laskar wanita yang bekerja di dapur umum. Bahkan 63 tahun lalu, saat Bungk Karno dan teman-temannya pulang ke Jakarta untuk membackan teks proklamasi dari Rengasdengklok suamiku ikut mengawalnya.
Aku masih ingat saat itu sehari sebelum pembacaan teks proklamasi. Bung Karno dan kawan-kawan berjalan kaki untuk menuju sebuah rumah di Rengasdengklok bersama sejumlah pemuda pejuang.
Sebagai tentara, suamiku juga ikut mengawal sang proklamator tersebut. Namun kini 63 tahun setelah hari pembebasan itu nasib kehidupan kami jauh dari arti kemerdekaan. Kehidupan kami tak beranjak sedikitpun dari kemiskinan dan kesusahan.
Bahkan aku tinggal di gubuk riot seperti gudang. Tidak ada perabot rumah tangga yang tersisa. Mungkin aku tidak sendiri, ribuan orang mantan pejuang nasibnya juga tidak jauh berbeda.
Aku tinggal di pinggiran Bekasi, Jawa Barat, tepatnya di Kampung Pilar Barat Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang, Kabupaten Bekasi. Pangkat terakhirnya Prajurit Dua, sedangkan pangkat suamiku Prajurit Satu. Aku dan suamiku dari Brigadir Tiga Devisi Siliwangi.
Lembar-lembar kusam piagam ini menjadi bukti sekaligus saksi pengabdianku kepada bangsa dan negara ini. Begitu juga pakaian veteran kebanggaan suamiku kini masih aku simpan sebagai kenangan.
Aku menikah resmi pada tanggal 8 Juni 1952. Pernikahanku yang sudah lama ini ternyata tidak dikaruniani anak. Dari dulu hingga sekarang aku hanya tinggal berdua di rumah yang terbuat dari bilik bambu. Ya, bagaimana mungkin aku bisa membangun rumah yang layak. Untuk makanpun aku harus berjuang keras untuk mendapatkannya. Pekerjaan apa saja aku jalani.
Dulu ketika suamiku masih sehat, kami masih bisa bekerja bahu membahu untuk mencari nafkah. Tapi kini aku terpaksa menjalani sendiri, karena sejak 2 tahuh lalu suamiku tergolek lemah tak berdaya karena usia tua.
Meski dalam kondisi seperti ini aku tidak pernah melupakan hari bersejarah itu. Setiap tanggal 17 Agustus kami tetap mengibarkan bendera mengenang saat-saat perjuangan sekaligus kemenangan bangsa kita dari sang penjajah.
Cara inilah yang bisa aku lakukan. Meski aku sendiri kadang bertanya dimanakah teman seperjuanganku kini masihkan mereka hidup ?. Apakah mereka bahagia menikmati perjuangannya atau hanya terbuang dan terlupakan seperti aku dan suamiku.
Segmen 2
Kini Minih menjadi kaum papa. Ia merasa terbuang dan tersingkirkan dari sebuah bangsa yang seharusnya menjunjung tinggi jasa-jasa mereka para pahlawan bangsa.
Kini Aku harus menjaga suamiku yang sedang sakit sejak 2 tahun yang lalu. Setiap hari Aku harus bekerja di kebun untuk menggantikan suamiku yang sudah tidak dapat bekerja lagi. Untuk makan sehari - hari, Aku dan suamiku hanya mengharapkan belas kasihan para tetangga yang masih memperhatikan Aku dan suamiku.
Kadang mereka datang membawakan sepiring nasi atau makanan apa saja untuk kami. Aku juga tidak bisa membawa suamiku ke dokter karena Aku sama sekali tidak memiliki biaya. Yah ... lihatlah kondisi suamiku ! Aku hanya bisa merawat seandainya.
Selain Aku dan suamiku yang tinggal dirumah ini, ada rekanku bernama Misnan yang sama - sama satu kompi denganku dan suamiku tahun 1942.
Kami bertiga adalah saksi hidup perjalanan Bung Karno dari Rengas Dengklok - Kerawang melewati Bekasi dan akan dijemput dengan kendaraan di Warung Bongkok, Cibitung menuju Jakarta untuk membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Selama perjuangan dan hingga teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945 sampai 63 tahun ini buatku dan rekan - rekanku sesama pejuang tidak ada bedanya. Dahulu susah dan sekarang malah tambah susah. Dahulu makan singkong sekarang pun tetap makan singkong.
Selama 63 tahun pemerintah daerah atau pemerintah pusat sama sekali tidak memberi perhatian terhadap kami para mantan pejuang. Aku dengar pemerintah memberikan santunan atau uang jasa kepada para Veteran, tapi Aku dan Misnan tidak mendapatkannya. Aku tidak tahu apakah kami dianggap tidak ada.
Dulu waktu jaman orde baru Aku masih ingat, menjelang peringatan 17 Agustus kami selalu mendapat kiriman beras dan lauk pauk. Tapi entah kenapa ? semenjak pemerintahan berganti tidak ada lagi bingkisan buat kami meski hanya setahun sekali. Sebagai seorang pejuang Aku kadang sedih melihat kondisi saat ini.
Di televisi aku melihat banyak orang berdemonstrasi melempar batu, membakar rumah atau saling adu pukul. Aku tidak tahu apa sebenarnya mereka berjuangkan ? Aku sedih melihatnya.
Di hari Kemerdekaan ini Aku dan suamiku juga rekanku berharap ada perhatian dari pemerintah atau mudah - mudahan jika nanti ada pemerintah yang baru terpilih mereka mau memperhatikan kami orang - orang yang telah berjuang untuk bangsa dan negara.
Sebagai seorang pejuang sebenarnya Aku malu untuk meminta - minta, namun bukankah sewajarnya kami mendapat sedikit perhatian ? Kini suamiku masih tergolek lemah tapi setiap hari ulang tahun Kemerdekaan suamiku seperti teringat masa perjuangannya dulu.
Ia selalu mengingatkanku untuk tetap mengibarkan bendera merah putih. Bendera kebanggaan seluruh bangsa kita. Yah.. hanya itu yang masih tersisa dari semangat kami ! Selamat ulang tahun Indonesiaku. (Dv/Sup).
Langganan:
Postingan (Atom)
