Minggu, 13 Maret 2011

Sebuah Renungan ... Seorang Tukang Becak Sumbangkan Rp. 470 Juta Untuk Yatim Piatu

Informasi Berita Terbaru -Mungkin ini adalah cerita lama. tapi saya tertarik ingin mengulasnya lagi mengingat sudah berkurangnya rasa solidaritas pada bangsa ini.Kalau orang kaya mau menyumbangkan hartanya tentu itu bukan suatu keajaiban. Tapi kalau orang miskin mau menyumbangkan hartanya berbagi dangan yang lain itu sangat mengetuk hati kita. Berikut ini kisang seorang Bai fang Li, seorang tukang becak miskin yang menyumbang seluruh hartanya untuk anak-anak miskin.

BAI FANG LI adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.


Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.


Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.

“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….” jawab anak itu.

“Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.

“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…” sahut anak itu.

Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm… tapi masih cukup bagus… gumannya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.


Bai Fang Li berkata, “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan……” katanya dengan sendu. Semua gurudi sekolah itu menangis……..

Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 ( setara 470 juta rupiah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.

Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan ” Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”.

Kamis, 27 Januari 2011

Sekarang kami dianggap sampah, Cerita dari Korps Cacat Veteran RZ, Jakarta Selatan

  Sekitar pukul dua siang, Katana bernomor polisi B 1754 BV memasuki halaman sebuah gedung yang tampak sepi di Jalan Tambak No. 11, Jakarta Selatan. Di depan bangunan yang catnya sudah kusam itu terpampang plang bertuliskan Kantor Korps Cacat Veteran RI. Tidak terlihat orang bercakap-cakap di depan gedung tersebut atau yang sekadar singgah untuk berlindung dari teriknya matahari siang itu. Dua orang yang mengendarai mobil tadi memarkirkan mobilnya sedikit agak ke kanan depan gedung. Maklum di depan kirinya ada sebuah warung dan takut jika nantinya tertutupi.

Setelah mengucapkan salam, tidak seorang pun ditemui di ruang depan gedung. Hanya terlihat kursi dan meja yang bertumpuk di ruang sebelahnya dan rajutan rumah laba-laba yang seakan menjadi hiasan di ruang itu. Setelah mencoba memberi salam beberapa kali, akhirnya datang seorang yang bertubuh tegap dengan rambut yang sudah memutih. "Cari siapa, Dik?", sapanya dengan ramah. Setelah bercakap-cakap menanyakan maksud dan tujuan kedua orang tadi, ia pun permisi. Bak menjalankan sebuah perintah, ia segera berbalik. Tidak lama kemudian, ia kembali lagi bersama seorang yang badannya lebih besar dan berambut putih semua. "Bapak ini adalah pimpinan di sini", jelas bapak pertama.

Bapak yang diperkenalkan itu menyebutkan namanya, H. Mahidin Pohan, selaku pimpinan di korps ini, ia punya tugas untuk mengurus keperluan pejuang veteran Indonesia. Sebagai pusat korps veteran, ia juga mengadakan koordinasi dengan korps-korps cabang seluruh Indonesia. Masuknya pria asal Medan ini ke kesatuan tentara pada umur sekitar 17 tahun menjadi awal kepengurusannya di KCVRI.

Risiko mati sudah menjadi komitmen seorang tentara. Tekad itu telah merasuk ke jiwa Pohan tatkala harus menghadapi tentara NICA di perang Medan Area. Beruntung nyawanya masih terselamatkan saat sebuah peluru musuh meluncur ke tubuhnya. Namun, tangan dan dadanya tidak terelakkan jadi sarang peluru itu. "Saya kena tembak bukan karena takut, karena maju", kenang pria berumur 76 tahun ini. Dua tahun ia menjalani hidup dengan tangan berbau busuk karena stok obat habis. "Kalau ada anak gadis, ia merasa bau pada kita", tuturnya dengan tertawa tatkala mengingat para gadis menjauh darinya.

Setelah merintis kepangkatan dari BKR (Badan Keamanan Rakyat) sampai TNI (Tentara Nasional Indonesia), Pohan kini dipercaya sebagai ketua KCVRI sampai tahun 2004. Namun, ia merasa kecewa dengan penghargaan pemerintah bagi para cacat veteran. "Habis manis sepah dibuang", itulah pepatah yang cukup pas untuk menggambarkan kekecewaan Pohan. "Pengalaman kami sakit betul, napasnya satu-satu, ngos-ngosan", ujarnya tentang kondisi yang dialami sekarang. Pria yang logat Medannya masih kentara ini merasa tidak puas dengan pemerintahan sekarang. "Sekarang kami tidak dianggap siapa-siapa lagi", ungkap Bapak yang dulu fasih berbahasa Jepang ini. "Tangan saya tidak bisa lurus lagi dan dada saya habis diseret peluru adalah perjuangan saya untuk negeri ini", lanjutnya. Dulu, pada masa pemerintah sebelum reformasi semuanya berjalan lancar. Mereka tidak mengalami kesulitan dana untuk biaya operasional kantor ini.

Kenyataan pahit harus dialami para pengurus di sini. "Saking tidak ada dananya, listrik mau dicabut", terangnya. Tagihan terakhir yang mencapai dua jutaan belum bisa mereka lunasi. Untuk menyiasati masalah itu, beberapa bagian gedung ini disewakan, yaitu bagian depan dan bangunan samping. Walaupun kondisinya berubah, tetapi semangat mereka untuk terus memperjuangkan hak-hak teman pejuang tidak surut. Pohan yang cukup vokal tidak enggan melayangkan surat ke pemerintahan setempat dan Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) untuk minta diperhatikan. Satu-satunya dana yang bisa diandalkan sampai saat ini adalah dari Dephankam. Walaupun matanya menyiratkan kekesalan, tetapi dalam hati kecilnya ia tidak pernah menyesali perjuangan dan pengorbanannya. "Saya cinta republik ini", katanya dengan tetap semangat.

Supranoto, teman seperjuangan Pohan di KCVRI menuturkan penyesalannya terhadap kondisi bangsa Indonesia yang bercerai-berai. "Pada waktu dulu, kita semua bersatu padu. Sekarang mengapa ada yang mau lepas dan terpisah", ungkap veteran yang berpangkat letnan dua ini dengan nada setengah kecewa. Namun, ia pun tidak menyesal pernah ikut andil dalam memerdekakan bangsa ini. Bapak yang telah berumur 75 tahun ini menuturkan bahwa perjuangan mengusir penjajah merupakan suatu perjuangan tanpa pamrih dan dilakukan semata-mata karena cinta tanah air dan bangsa.

Pejuang lain, Mukhron berpendapat lain. Bapak asli Betawi ini mengemukakan bahwa dirinya sangat senang merasakan republik tercinta ini merdeka karena cita-cita pejuang dulu adalah mengangkat derajat bangsa dari segala hal walaupun mereka diperlakukan kurang semestinya saat ini. "Kita maklum kurang diperhatikan, kalau dikhususkan kita aja tidak adil. Saya masih menghargai pemerintah yang berkuasa", ungkapnya.

Perjuangannya dimulai sejak dirinya masuk Gerakan Pemuda Banteng. Kariernya dirintis dengan masuk BKR. Sewaktu itulah ia disergap sehingga kena tembak di kaki dan tangannya. Beruntung kala itu, dirinya menolak untuk diamputasi sehingga sekarang ia masih bisa berjalan dengan kedua kakinya. Namun, cacat tidak bisa dihindari. Tangan kanannya kesulitan digunakan untuk menulis. "Soalnya pensil kecil, licin", jelas Bapak berusia 80 tahun ini. Tidak ayal jika ia menulis dalam satu lembar kertas, bentuk tulisannya bermacam-macam.

Keaktifan dalam korps ini mengisi waktunya setelah pensiun. Selain itu, dirinya memang gemar berorganisasi. Sebelum masuk ke korps ini, Bapak yang memiliki dua anak ini aktif di Korps Invalid Jakarta yang bertujuan untuk menghimpun teman-teman pejuang yang cacat. "Dengan berorganisasi pola pikir saya meningkat", jelasnya. Berperannya dalam korps ini juga sebagai bentuk perjuangan untuk teman-teman senasibnya sesuai dengan Undang-Undang No.27. Dalam UU itu pasal 19 disebutkan bahwa semua cacat veteran, warakauri, dan yatim piatu pejuang diurus khusus. Pasal 20 dijelaskan bahwa pemerintah berkewajiban mengurus para cacat. Kini, ia punya satu pengharapan agar anak bangsa mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkannya. Kepada para pemimpin negeri ini yang menyeleweng semoga insyaf. 

Masa Kelam Sang Pejuang

Peliput : Awang Darmawan
Produser : Widayat S Noeswa
Tayang : Jumat, 22 Agustus 2008, Pukul 12.30 WIB

Setia kali memperingati hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus hatiku selalu bergetar. Ada kebanggaan yang tiada ternilai yang masih bersemayam di dada. Karena aku adalah saksi sejarah kemerdekaan.
Aku bangga sekaligus sedih. Bangga karena bangsa Indonesia bisa terbebas dari belenggu penjajahan. Sedih karena nasibku dan suamiku jauh dari arti kemerdekaan. Kehidupan kami sebagai mantan pejuang seperti terlupakan. Bahkan suamiku kini terbaring lemah tak berdaya.
Bulan ini bangsa Indonesia merayakan hari ulang tahun kemerdekaan ke 63. Sebuah moment untuk mengenang lahirnya sebuah bangsa yang dicapai dengan pengorbanan, bukan hanya jiwa dan raga.
Namun dibalik itu semua ternyata masih banyak cerita pilu dari mereka yang dulu ikut memanggul senjata untuk memperebutkan kemerdekaan dari para pejajah. Minih dan suaminya adalah sebuah potret buram dari hingar binggar kemerdekaan.
Ya aku dan suamiku adalah mantan pejuang yang menjadi saksi sejarah terbebasnya bangsa ini dari belenggu penjajahan. Kami berjuang dari satu daerah ke daerah lain. Suamiku berada di garis depan memanggul senjata, sementara aku menjadi laskar wanita yang bekerja di dapur umum. Bahkan 63 tahun lalu, saat Bungk Karno dan teman-temannya pulang ke Jakarta untuk membackan teks proklamasi dari Rengasdengklok suamiku ikut mengawalnya.
Aku masih ingat saat itu sehari sebelum pembacaan teks proklamasi. Bung Karno dan kawan-kawan berjalan kaki untuk menuju sebuah rumah di Rengasdengklok bersama sejumlah pemuda pejuang.
Sebagai tentara, suamiku juga ikut mengawal sang proklamator tersebut. Namun kini 63 tahun setelah hari pembebasan itu nasib kehidupan kami jauh dari arti kemerdekaan. Kehidupan kami tak beranjak sedikitpun dari kemiskinan dan kesusahan.
Bahkan aku tinggal di gubuk riot seperti gudang. Tidak ada perabot rumah tangga yang tersisa. Mungkin aku tidak sendiri, ribuan orang mantan pejuang nasibnya juga tidak jauh berbeda.
Aku tinggal di pinggiran Bekasi, Jawa Barat, tepatnya di Kampung Pilar Barat Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang, Kabupaten Bekasi. Pangkat terakhirnya Prajurit Dua, sedangkan pangkat suamiku Prajurit Satu. Aku dan suamiku dari Brigadir Tiga Devisi Siliwangi.
Lembar-lembar kusam piagam ini menjadi bukti sekaligus saksi pengabdianku kepada bangsa dan negara ini. Begitu juga pakaian veteran kebanggaan suamiku kini masih aku simpan sebagai kenangan.
Aku menikah resmi pada tanggal 8 Juni 1952. Pernikahanku yang sudah lama ini ternyata tidak dikaruniani anak. Dari dulu hingga sekarang aku hanya tinggal berdua di rumah yang terbuat dari bilik bambu. Ya, bagaimana mungkin aku bisa membangun rumah yang layak. Untuk makanpun aku harus berjuang keras untuk mendapatkannya. Pekerjaan apa saja aku jalani.
Dulu ketika suamiku masih sehat, kami masih bisa bekerja bahu membahu untuk mencari nafkah. Tapi kini aku terpaksa menjalani sendiri, karena sejak 2 tahuh lalu suamiku tergolek lemah tak berdaya karena usia tua.
Meski dalam kondisi seperti ini aku tidak pernah melupakan hari bersejarah itu. Setiap tanggal 17 Agustus kami tetap mengibarkan bendera mengenang saat-saat perjuangan sekaligus kemenangan bangsa kita dari sang penjajah.
Cara inilah yang bisa aku lakukan. Meski aku sendiri kadang bertanya dimanakah teman seperjuanganku kini masihkan mereka hidup ?. Apakah mereka bahagia menikmati perjuangannya atau hanya terbuang dan terlupakan seperti aku dan suamiku.
Segmen 2
Kini Minih menjadi kaum papa. Ia merasa terbuang dan tersingkirkan dari sebuah bangsa yang seharusnya menjunjung tinggi jasa-jasa mereka para pahlawan bangsa.
Kini Aku harus menjaga suamiku yang sedang sakit sejak 2 tahun yang lalu. Setiap hari Aku harus bekerja di kebun untuk menggantikan suamiku yang sudah tidak dapat bekerja lagi. Untuk makan sehari - hari, Aku dan suamiku hanya mengharapkan belas kasihan para tetangga yang masih memperhatikan Aku dan suamiku.
Kadang mereka datang membawakan sepiring nasi atau makanan apa saja untuk kami. Aku juga tidak bisa membawa suamiku ke dokter karena Aku sama sekali tidak memiliki biaya. Yah ... lihatlah kondisi suamiku ! Aku hanya bisa merawat seandainya.
Selain Aku dan suamiku yang tinggal dirumah ini, ada rekanku bernama Misnan yang sama - sama satu kompi denganku dan suamiku tahun 1942.
Kami bertiga adalah saksi hidup perjalanan Bung Karno dari Rengas Dengklok - Kerawang melewati Bekasi dan akan dijemput dengan kendaraan di Warung Bongkok, Cibitung menuju Jakarta untuk membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Selama perjuangan dan hingga teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945 sampai 63 tahun ini buatku dan rekan - rekanku sesama pejuang tidak ada bedanya. Dahulu susah dan sekarang malah tambah susah. Dahulu makan singkong sekarang pun tetap makan singkong.
Selama 63 tahun pemerintah daerah atau pemerintah pusat sama sekali tidak memberi perhatian terhadap kami para mantan pejuang. Aku dengar pemerintah memberikan santunan atau uang jasa kepada para Veteran, tapi Aku dan Misnan tidak mendapatkannya. Aku tidak tahu apakah kami dianggap tidak ada.
Dulu waktu jaman orde baru Aku masih ingat, menjelang peringatan 17 Agustus kami selalu mendapat kiriman beras dan lauk pauk. Tapi entah kenapa ? semenjak pemerintahan berganti tidak ada lagi bingkisan buat kami meski hanya setahun sekali. Sebagai seorang pejuang Aku kadang sedih melihat kondisi saat ini.
Di televisi aku melihat banyak orang berdemonstrasi melempar batu, membakar rumah atau saling adu pukul. Aku tidak tahu apa sebenarnya mereka berjuangkan ? Aku sedih melihatnya.
Di hari Kemerdekaan ini Aku dan suamiku juga rekanku berharap ada perhatian dari pemerintah atau mudah - mudahan jika nanti ada pemerintah yang baru terpilih mereka mau memperhatikan kami orang - orang yang telah berjuang untuk bangsa dan negara.
Sebagai seorang pejuang sebenarnya Aku malu untuk meminta - minta, namun bukankah sewajarnya kami mendapat sedikit perhatian ? Kini suamiku masih tergolek lemah tapi setiap hari ulang tahun Kemerdekaan suamiku seperti teringat masa perjuangannya dulu.
Ia selalu mengingatkanku untuk tetap mengibarkan bendera merah putih. Bendera kebanggaan seluruh bangsa kita. Yah.. hanya itu yang masih tersisa dari semangat kami ! Selamat ulang tahun Indonesiaku. (Dv/Sup).